Cerita Tentang Syetan yang Terbelenggu Namun Nafsu Tetap Tak Mau Tunduk

Pagi tadi sengaja aku pulang lebih cepat. PC istilah finger printnya. Tujuannya agar bisa mengejar jum'atan di masjid Desa, karena setelah itu ada beberapa agenda yang ingin dikerjakan. Dengan kecepatan secepat-cepatnya, aku kendalikan motorku. Tak peduli jalanan nanjak-mudun. Tak kuhiraukan bebatuan taringgul di sepanjang jalur Hantara-Kadugede via Kaliwon. Dan akhirnya sampailah di Desa tercinta dengan nafas terengah-engah plus aroma mulut tujuh rupa yang jika orang lain mendekat mungkin tak kan kuat berlama-lama.

Tanpa sempat mandi sunnah jum'at, selepas meletakkan tas laptop pada tempatnya. Langsung saja kucabut lagi ke mesjid. Alhamdulillah masih sempet ikut jum'atan meskipun pas nyampai mesjid pas adzan kedua. Segera kugura-giru mencari celah untuk bisa mengisi shaff yang masih tersedia. Alhamdulillah di selasar sebelah selatan masih bisa dimanfaatkan.

Dan meskipun sambil menahan kantuk yang begitu berat, namun ada beberapa poin penting isi khutbah yang masih bisa kucatat. Diantaranya tentang syetan-syetan yang dibelenggu di bulan Ramadhan ini. Kenapa masih saja kita berbuat maksiat padahal keterangan jelas bahwa syetan itu diikat? Jawabannya karena selain syetan dari luar, ada juga bisikan hawa nafsu yang ada dalam diri kita masing-masing. Dan hawa nafsu ini tak mudah dikendalikan sebagaimana syetan tadi.

Pak Khotib menjelaskan bahwa ketika Allah mengonfirmasi akal, " Hai akal apakah kamu tau siapa aku?" Dan Akal pun menjawab, " Ya Alloh Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu".

Berbeda halnya dengan akal, saat nafsu ditanya dengan pertanyaan serupa. Ternyata berkali-kali dia berpaling dengan penuh kesombongan. Walhasil, hawa nafsu dihukum dengan berbagai hukuman. Namun berkali-kali pula dia tetap tidak menyadari kekeliruannya. Tetap adigung, sombong tak berkesudahan. 

Dan pada akhirnya sang nafsu diberikan hukuman terakhir berupa kelaparan yang sangat lama. Barulah dia mau menyadari dan mengakui kesalahannya serta tunduk kepada Allah Swt. Sadar dirinya sebagai hamba dan sadar bahwa Allah Swt. merupakan Tuhannya.

Maka dari sinilah pelajaran puasa dimulai. Tiada lain agar orang-orang yang berpuasa bisa mengendalikan dirinya. Mengendalikan hawa nafsunya. Puasa merupakan terapi yang  sangat ampuh untuk menempa jiwa agar kuat, melatih batin agar tahan banting. Disamping juga menyehatkan fisik agar tetap prima.

Pantes saja. Ketika Rasulullah sepulangnya dari perang Badar yang sangat dahsyat bersabda kepada para sahabat, "Kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang besar". Para sahabat pun penasaran dengan statemen beliau yang seolah menyepelekan perang Badar yang sangat mengharu-biru perjuangan mereka. "Apa itu perang besar?" Jihadunnafsi, yaitu perang memerangi hawa nafsu.

Jadi, puasa yang sebenar-benarnya itu tidaklah mudah, kawan. Kalau sekedar menahan diri dari makan minum mah, binatang juga banyak yang bisa. Namun untuk menahan, mengendalikan hawa nafsu butuh perjuangan khusus yang terus menerus. Semoga saja kita bisa melaksanakannya dengan baik, agar nantinya kita bisa menjadi alumni-alumni terbaik madrasah ramadhan ini. amin.

Untuk sementara cukup sekian cerita hari ini semoga ada manfaatnya.


Previous
Next Post »