Tugas Guru Memang Berat Tapi Kami Tak Keberatan

Tugas Guru Memang Berat Tapi Kami Tak Keberatan
Suatu hari di sebuah lembaga pendidikan pernah diadakan training motivasi. Dengan trik jitunya sang motivator membuat para guru tertawa kegirangan bahkan sesekali menangis tersedu merenungi nasib diri di tengah gilasan roda zaman yang semakin tak kenal perasaan. Namun apapun yang terjadi keputusan menjadi guru harus dijalani dengan penuh keikhlasan.

Pada sebuah sesi, trainer motivasi mempersilakan salah seorang guru untuk maju ke depan gedung untuk simulasi. Terlihat ada secarik kertas entah apa tulisannya karena hanya sang trainer dan guru tersebutlah yang mengetahuinya. Selesai memperlihatkan tulisan tersebut kemudian guru memperagakan isi tulisan tersebut. Dan kami peserta dibuat kebingungan untuk menebak apa maksud dari peragaan tebut. Alih-alih kami bisa menebak dengan benar, justru semua tertawa karena peragaan kocak dari guru tersebut.

Penasaran dengan isi tulisan tersebut, tibalah pada sesi "menyibak tabir". Ternyata tulisan di secarik kertas tersebut hanyalah pribahasa lama yang sudah tak asing lagi dalam dunia pendidikan, yaitu: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Dan kami pun merespon serentak dengan suara "Oh...."

Apa makna pribahasa tersebut, mungkin Anda telah lebih tahu dari saya. Namun boleh juga saya menginterpretasikan isi kandungan dari pribahasa tersebut. Hemat saya pribahasa tersebut berkaitan dengan pelanggaran. Sebagaimana kita tahu kencing adalah salah satu kebutuhan manusia secara universal. Bagian dari proses eksresi dalam metabolisme tubuh manusia. Namun sebagai manusia, kita memiliki nilai-nilai yang diyakini menjadi prinsip bahkan bisa jadi merupakan bentuk ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai muslim misalnya, kita memiliki etika (adab) dalam berbagai aktivitas termasuk dalam aktivitas buang air kecil sekalipun. Kencing sambil berdiri merupakan bentuk pelanggaran adab yang tidak hanya tercela menurut sudut pandang Islam, namun juga bisa jadi penyebab penyakit dalam pandangan medis. Aturan yang sebaiknya dalam kencing adalah sambil jongkok.

Oleh karena itu, kencing sambil berdiri merupakan bentuk pelanggaran yang fatal, apatah lagi dilakukan oleh seorang guru. Karena jika guru saja sudah berani melanggar, maka pelanggaran yang akan dilakukan siswa mungkin akan lebih banyak. Mereka akan berdalih bahwa guru pun melakukan pelanggaran. Jika guru melanggar sejengkal, maka boleh jadi siswa lebih panjang pelanggarannya.

Dan di sinilah salah satu aspek terberat menjalani profesi sebagai guru. Seorang guru tidak hanya dituntut mampu menguasai materi pelajaran dan metode penyampaiannya dengan baik. Tetapi, lebih dari itu mereka diharapkan menjadi teladan dalam kebaikan. Tekad hati, ucapan verbal dan aksi segenap anggota badan setiap menitnya dijadikan timbangan untuk mengukur bagaimana perilaku murid-muridnya.

Sadar atau tidak sepak terjang guru akan terekam dalam memori siswa. Dan idealnya, seorang guru harus mampu menampilkan yang terbaik dalam berperilaku karena besar pengaruhnya terhadap siswa. Hal ini sesuai dengan diksi guru itu sendiri yang sering diartikan sebagai "digugu dan ditiru". Maka di sinilah beratnya sebagai berprofesi guru. Aktivitas guru tidak hanya transfer ilmu, namun lebih dari itu menjadi semacam agen peradaban. Maju-mundurnya peradaban generasi penerus tergantung dari keteladanan gurunya.

Menjadi guru teladan secara paripurna memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Di sana butuh perjuangan secara terus-menerus tanpa mengenal lelah. Maka proses melakukan introspeksi diri setiap hari harus dilakukan. Sejalan dengan proses tersebut, jangan sampai guru mati gaya apalagi keberatan untuk sering memberi nasihat kepada para siswanya agar tak salah langkah. Bakar motivasi mereka agar sukses bahagia setiap kali anda berinteraksi dengan siswa.

Maka walaupun sudah tahu tugas guru cukup berat, kami tak keberatan untuk terus berusaha menjadi guru yang baik. Guru yang baik adalah guru yang mampu menjadi sosok yang mampu digugu dan ditiru. Guru yang ideal adalah guru yang selalu ditunggu dan dirindu. Guru yang paripurna tidak hanya bergerak atas dasar tuntutan profesi semata. Apalagi hanya karena tunjangan saja. Namun guru yang sejalan antara hati, ucapan dan perbuatan. Dan menunjukkan dirinya sebagai agen peradaban. Karena guru sejatinya adalah tugas mulia, bahkan tugas risalah para anbiya. Dan Rasulullah pun pernah bersabda: Innama bu'itstu mu'alliman. Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menjadi pendidik.  Semoga  kita (para guru) bisa menjadi guru yang baik.  Amin.




Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar