Apa Saja yang Dimulai Dari Selesai

Apa Saja yang Dimulai dari Selesai
Indahnya Al-Qur'an Berkisah. Ini adalah sebuah judul buku yang pernah saya baca. Dan alhamdulillah saya sempat mengikuti bedah buku ini oleh penulisnya sendiri. Namun pada kesempatan ini saya tidak akan membagi isi buku tersebut, melainkan akan sharing sebuah sebuah renungan yang dimulai dari kisah nyata yang pernah terjadi di suatu kampung. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah pelajaran dari kisah tersebut.

Kisah ini tentang seorang ustadz yang dianggap menyampaikan ajaran sesat. Isu ini heboh sekali sehingga aparat dan MUI pun turun tangan untuk melakukan investigasi. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata faktanya sangat sederhana. Informasi ini saya temukan dikemudian hari dari seorang teman yang sangat memahami karakteristik dan keilmuan sang ustadz yang dianggap sesat tadi.

Konon katanya yang terjadi hanyalah salah faham, misskomunikasi antara ustadz yang menyampaikan ceramah dengan jamaah yang gagal fokus. Mungkin begitulah salah satu ujian dalam menyampaikan kebenaran. Sepertinya syetan tidak sudi kaum muslimin di kampung itu tercerdaskan.

Padahal pada saat itu sang ustadz hanya menyampaikan materi ringan tentang fikih shalat. Bahwa jika terlihat aurat maka batal shalatnya. Sedangkan jamaah ada yang keliru mendengarnya sehingga isu "sesat" ini terus menyebar. Mereka yang keliru mendengarnya bahwa meihat oray (ular) itu batal sholatnya. Ternyata dari hal sederhana, bisa jadi masalah besar hanya gegara salah dengar.

Untuk itu kita perlu belajar menjadi pendengar setia. Dan ini benar- benar harus dilatih terus-menerus. Siapa pun harus belajar menjadi pendengar yang baik. Lebih-lebih bagi Anda yang ingin jadi pembicara, orator, khotib, motivator dan sebagainya.

Masih terngiang wejangan gurunda, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) bahwa kalau ingin menjadi pembicara yang baik haruslah menjadi pendengar yang baik. Istilah penyiar radionya, jadi pendengar setia. Kenapa? Ya, karena dengan menjadi pendengar yg baik maka informasi yang didapat akan terserap dengan lengkap. Sempurna. Walhasil tidak gagal fokus.

Sebagai seorang pegawai saya pun mulai belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Misalnya saat pimpinan sedang memimpin rapat. Dengan menerapkan wejangan Aa Gym tadi ada banyak hikmah yg bisa saya ambil. Diantaranya informasi yg diserap menjadi BAL (Benar, Akurat, Lengkap). Selain itu saya pun dapat mengamati gaya pemimpin dalam memimpin rapat/ menyampaikan informasi. Sehingga saya dapat ilmu leadership manajemen juga dari para pimpinan yang berbeda-beda.

Diantara sekian banyak pimpinan lembaga yang silih berganti karena kebijakan rotasi. Ada yang punya gaya membahas masalah dari yang terakhir. Biasanya beliau mengatakan begini, "Baik saya akan mulai membahas dari pertanyaan terakhir yaitu nomor 5 yang datangnya dari saudar fulan...."

Nah, inilah hal yang menjadi bahan renungan saya saat ini. Terlepas dari berbagai gaya leadership para pemimpin tersebut. Saya ingin menyampaikan kepada Anda bahwa kalimat "yang dimulai dari selesai" itu mengandung filosofi yang dalam.

Coba Anda ingat, saat masa sekolah dulu. Saat upacara bendera kita sering mendengar pembina upacara mengatakan, "Perjuangan para pahlawan untuk meraih kemerdekaan tidaklah mudah. Mereka bersimbah darah demi merebut kemerdekaan dari penjajah. Namun mengisi kemerdekaan ini jauh lebih sulit lagi. Jadi perjuangan sebenarnya bagi kita adalah bagaimana bisa lebih baik setelah merdeka.

Lalu apa lagi aplikasi filosofi yang dimulai dari selesai?

Mumpung masih hangat dari perjuangan kita dalam ibadah puasa ramadhan. Mungkin Anda juga pernah mendengar tentang kisah Rasulullah Saw berjuang melawan kafir quraisy di lembah Badar. Namanya perang Badar, peperangan paling besar yang pernah dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya. 

Namun apa sabda Baginda berkenaan dengan perang Badar ini? "Roja'na min jihadil ashgor ila jihadil akbar". Kita baru pulang dari perang kecil menuju perang besar. Sontak para sahabat pun bertanya, "ma huwa jihadul akbar ya Rosululloh? Apa itu perang besar wahai Baginda Rasulullah. Saat beliau ditanya apa jihad besar. Maka jawabannya adalah jihadunnafsi. Perang melawan hawa nafsu.

Dan kalau renungi makna ibadah puasa sebulan lamanya. Bisa jadi ini merupakan media latihan dari Allah Swt. untuk bekal kita dalam mengarungi kehidupan 11 bulan berikutnya. Jadi perjuangan sebenarnya bukan hanya pelaksanaan puasa ramadhan tersebut. Melainkan bagaimana kita sukses menjadi hamba Allah pasca Ramadhan. Sehingga sejak genderang takbiran hari raya Idul fitri kemarin perjuangan baru dimulai.

Anda yang mengenal Allah saat Ramadhan, masih mampukah mengenalnya di 11 bulan berikutnya. Anda yang mampu melawan hawa nafsu di bulan lalu, masih kuatkah melawan hawa nafsu di bulan berikutnya? Anda yang dermawan di bulan Ramadhan, masih bisa dermawankah di 11 bulan kemudian?

Dan pada akhirnya kehidupan kita pun demikian filosofinya. Bagi seorang muslim kematian bukanlah akhir segalanya. Justru pintu kematian adalah awal dari segalannya. Kalau kata ki Dalang Asep Sunandar Sunarya, "Sato paeh bilatungan, manusa maot balitungan". Artinya kalau binatang mati itu hanya membusuk takkan ditanya amalnya di dunia, sedangkan jika manusia mati maka akan diminta pertanggungjawaban amalnya selama hidup di dunia. Dan hidup setelah mati itu hidup yang sebenarnya. Hidup yang abadi. Sedangkan di dunia hanya sementara.

Maka, Faidza Faroghta Fanshob. Selesai suatu kebaikan, mulai lagi dengan kebaikan lainnya. Dan seterusnya.

Lalu apa lagi yang dimulai dari selesai menurut Anda?



Previous
Next Post »