Dicari, Makhluk Langka Ini (1)

Dicari, Makhluk Langka Ini (1)
Apa yang Anda bayangkan saat mendengar kata "canggih"? Mungkin saja tergambar teknologi mutakhir yang berseliweran ditawarkan oleh negara maju untuk "ngabibita" negara yang belum maju semisal kita. Ah daripada salah kaprah dalam menafsirkan lebih baik kita cek di KBBI yuk! Akhirnya saya menemukan arti kata canggih itu sebagai berikut: 1 banyak cakap; bawel; cerewet; 2 suka mengganggu (ribut); 3 tidak dalam keadaan yang wajar, murni, atau asli; 4 Tekkehilangan kesederhanaan yang asli (seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang): teknik elektronika yang --; 5 banyak mengetahui atau berpengalaman (dalam hal-hal duniawi); 6 bergaya intelektual. Ternyata banyak artinya ya, hehehe.

Belum lagi yang akan saya artikan bebas, canggih itu sebagai akronim dari frasa "carang kapanggih". Sebagai orang sunda rasa sunda itu senantiasa terbawa. Maklum bahasa ibu saya kan bahasa Sunda. Jadi carang kapanggih itu bermakna susah ditemukan alias langka. Sesuai dengan judul artikel ini yaitu tentang makhluk langka (1). Insyaa Allah akan berseri dengan makhluk langka-makhluk langka lainnya. Nah, untuk edisi saat ini makhluk langka yang akan dicari adalah dari kalangan pegawai, wabil khusus pegawai negeri.

Bicara soal pegawai negeri sipil atau yang sekarang dikenal sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), jujur saja banyak yang menginginkannya. Sampai-sampai saya tidak habis pikir, sewaktu kuliah dulu saya menemukan salah satu senior saya dengan kualifikasi kecerdasan jenius, namun masih menginginkan menjadi pegawai negeri. Singkat cerita, mahasiswa yang cumelaude ini melamar kerja ke sebuah lembaga bonafide internasional. Secara administrasi dan tes lainnya di atas kertas dia lulus. Sayangnya sewaktu diwawancara mengenai motivasi terbesarnya, ternyata dia tak bisa mengelak, ingin jadi pegawai negeri sipil. Ah...akhirnya dia terjatuh alias tidak lulus.

Mungkin tidak keliru juga kalau seorang teman saya dalam status facebooknya mengatakan bahwa profesi yang digandrungi anak muda sekarang adalah menjadi pegawai negeri dan selebritis. Aduh kenapa jarang yang ingin jadi pengusaha, penulis, bahkan pendakwah (ulama). Padahal, kalau kita menilik kepada orang-orang sukses terdahulu. Lebih-lebih kepada muaranya orang-orang sukses yaitu Rasulullah Saw, maka beliau menyontohkan profesinya sebagai pengembala, pedagang, dan pengusaha. Adakah yang salah dalam pola asuh orang tua kita? Maksudnya penerapan pola pikirnya gitu.

Ah bulshit kata anda dalam hati. Enak saja bicara mengkritisi orang yang ingin jadi pegawai negeri, dirinya sendiri sebagai pegawai negeri. Hayoo. Astaghfirullah, terimakasih ya, telah diingatkan. Jujur saja yang terbaik itu bukan masalah PNS atau penguasaha, karena yang paling mulia adalah yang paling takwa. Jadi ASN yang bertakwa jauh lebih baik dan mulia daripada pengusaha yang tak bertakwa, sepakat?

Terkadang yang mengerikan itu adalah cara-cara untuk menggapainya. Konon zaman dulu ada yang mau jadi PNS dengan membeli SK sekian puluh juta. Eh udah jadi PNS ternyata kinerja nya juga jalan di tempat, pola pikir negatifnya tidak berubah. Bahkan mungkin yang nyata berubah hanyalah gaya hidup dari yang tadinya hidup sederhana menjadi mewah tak terkira. Dari yang tadinya normal menjadi glamour. Gajian lebih diorientasikan untuk memenuhi keinginan (want) yang tak ada batasnya daripada hanya sekedar bekal kebutuhan (need) yang diperlukan sewajarnya.

Walhasil, kerja jadi gak semangat gegara gajinya nol rupiah karena dipotong hutang. Musim zakat fitrah maunya menjadi mustahik zakat dari kalangan orang yang berhutang (ghorimin), namun ketika ditelusuri dalam syariah, tak memenuhi syarat sebagai ghorimin. Mau apa lagi kalau sudah begini kejadiannya. Mau resign?

Aduh gua banget, tobat dah, kata orang yang merasa. Maafkan kalau agak pedih. Bukan apa-apa tulisan ini sebenarnya bersifat autokritik, menasihati diri saya sendiri. Mudah-mudahan dengan dibaca oleh Anda bisa menjadi do'a untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Baik bagi saya khususnya, dan bagi Anda yang membacanya. Dan, sebenarnya gambaran buram itu tidak semuanya begitu. Bahkan masih banyak yang kerennya juga. Nah, yang keren inilah makhluk langka di habitatnya.

Cerita dari seorang teman, katanya ada seorang pegawai negeri yang pola hidupnya sederhana. Terlebih beliau seorang guru, jadi sangat menjiwai dalam memberi keteladanan bagi murid-muridnya. Dan sayangnya itu bukan saya. Tapi mudah-mudahan kita bisa menirunya meskipun sedikit-sedikit.

Beliau itu masih tetap setia dengan motor bebeknya, meskipun di kanan kiri menggodanya dengan "pelet jepang", dan mungkin sebenarnya beliau mampu. "Lumrah" kata orang kalau seorang pegawai menggadaikan SK untuk memenuhi segala life style agar kekinian. Nyatanya gajinya full tanpa potongan bulanan dari Bankir. 

Setelah diberitahu namanya, iseng-iseng saya menatap wajahnya. Rona keteduhan dan ketenangan tersirat dari pancaran sinar matanya. Masyaa Allah ini makhluk langka yang saya cari selama ini. Jujur saja, memandangnya teramat malu. Karena darah muda saya masih belum stabil. Belum bisa seperti orang tersebut. Saya masih cenderung memuaskan keinginan daripada sekedar memenuhi kebutuhan. Padahal kita tahu kesederhanaan itu lebih baik dari hedonis. Karena Rasulullah juga mencontohkannya. Beliau bisa menjadi orang terkaya tanpa tandingan, kalau beliau mau. Tapi sederhana adalah pilihan hidupnya.

Meminjam istilah kepala sekolah beberapa periode yang lalu, Pesan saya kepada saya sendiri dan kepada Anda, "Mari kita lakukan perubahan meskipun sehari hanya 0,001 persen!". Setuju?
Previous
Next Post »