Dicari, Makhluk Langkah Ini (2)

Dicari Makhluk langka ini (2)
Bismillahirrahmanirrahim 

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Sebagai muslim sudah tentu mengenal kalimat di atas. Ya, itu merupakan terjemahan dari surat Al-'Alaq ayat 1-5. Para pelajar ketika ditanya tentang wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. pasti jawabannya itu. Dan yang paling fenomenal menjadi bahasan adalah tentang perintah membaca pada ayat pertama.


Betapa indahnya ajaran Islam, hingga wahyu pertama nya pun memotivasi manusia agar melek literasi. Hal ini membuktikan bahwa ajaran islam itu kamil (sempurna) dan syamil (lengkap) ditinjau dari arah manapun. 



Al-Islamu ya'lu wala yu'la 'alaih. Islam itu tinggi dan tak ada yang lebih tinggi dari Islam.



Pernyataan di atas bukan hendak menyombongkan diri, melainkan untuk mencambuk umat Islam agar bisa seirama dengan kemuliaan ajaran Islam. Kenapa? Karena terkadang yang mengotori Islam adalah umat Islam juga. 



Sebagai contoh sederhana berkenaan dengan membaca. Kalau bicara membaca, maka akan ada penafsiran dalam arti luas. Maka, dalam tulisan ini kita bahas tentang membaca buku.



Disinyalir ironi membaca ini sudah berlangsung begitu lama. Kenapa umat Islam yang punya dalil, sedang orang lain yang punya amal. Inilah letak kesenjangan yang menganga. Bahkan untuk tingkat pelajar atau mahasiswa sekalipun. Padahal tugas utama pelajar adalah belajar. Sedangkan kunci belajar itu diawali dengan membaca.



Tidak jarang saya bertanya kepada siswa perihal kebiasaannya membaca. Namun jawabannya sangat tidak memuaskan. Dewasa ini sangat jarang sekali siswa yang rajin membaca buku. Jangankan buku-buku lain yang bersifat umum dan pendalaman ilmu yang dipelajari, ternyata buku pelajaran pun enggan mereka buka.



Lalu bagaimana nasib para pelajar kalau sudah meninggalkan tradisi membaca ini?



Kan sekarang ini era digital, jadi membaca pun tidak harus buku biasa. Kita bisa baca ebook, website, blog dan sebagainya. Iya, memang betul. Tetapi nilai rasanya itu berbeda ketika membaca buku secara langsung. Dan saya pikir, meskipun ada smartphone, tidak banyak pelajar yang menggunakannya sebagai media belajar, dalam hal ini membaca.



Jadi, tetap harus ada kiat khusus untuk menumbuhkan minat baca dari para pelajar. Karena membaca itu banyak manfaatnya. Dengan membaca kita bisa menyingkat pengalaman karena bisa belajarf dari sukses dan gagal seseorang. Sedangkan pengalaman sendiri disebut sebagai guru yang terbaik, bukan. 



Dengan rajin membaca pula, maka seorang pelajar akan menguasai intisari soal ujian sepanjang apapun. Ketika siswa mengeluh soal ujian bahasa Indonesia yang kalimatnya panjang-panjang. Singkat saja, saya jawab, bahwa jika kita rajin membaca maka soal sepanjang apa pun akan bisa kita simpulkan dengan cepat. Karena soal ujian itu tidak akan keluar dari materi pelajaran yang sudah dipelajari. Itu sederhananya.
Previous
Next Post »