Inilah Hasil Ujian Ramadhan, Bagus atau Hangus?

inilah hasil ujian ramadhan, bagus atau hangus?
Mungkin karena terlalu betah hidup di dunia ini, tak terasa waktu cepat berlalu. Baru kemarin rasanya kita menyambut gembira kehadiran bulan Ramadhan, sekarang harus sudah berpisah lagi. Harapan kita semoga kelak bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan bulan yang penuh kemuliaan.



Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat spesial. Terbukti di antara 12 bulan hanya bulan Ramadhan saja yang disebut secara  eksplisit dalam Al-Qur'an sebagaimana firman Allah Swt:


 ..... شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن 
"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an..." (QS. Al-Baqarah:185)

Dari kata ramadhan ini tiap kita bisa menyajikan makna aneka kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada orang-orang beriman. Misalnya: 
  • Huruf ra dari kata rahmatillah yang bermakna kasih sayang Allah. Allah itu Maha Kasih terhadap hambanya, namun di bulan ramadhan ini kasih sayangnya lebih tercurah lagi. Terbukti dengan dibuka lebar-lebar pintu syurga (kebaikan) dan ditutup rapat pintu neraka (kejelekan)
  • Huruf mim dari kata mahabbatillah yang bermakna kecintaan Allah. Ampunan Allah dicurahkan pada bulan Ramadhan ini 
  • Huruf dhad dari kata dhominalloh yang bermakna jaminan Allah Allah menjanjikan pahala yang tak terkira kepada orang-orang yang berpuasa sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis yang artinya: Puasa itu untukku dan aku yang akan membalasnya. 
  • Huruf alif dari kata alifillah, kelembutan/kasih sayang Allah
  • Huruf Nun dari kata Nurullah, yang bermakna cahaya Allah, cahaya Allah yaitu Al-Qur'an turun di bulan Ramadhan
  • dan banyak lagi keistimewaan bulan Ramadhan yang belum terungkap dalam tulisan ini.
Sejak sore kemarin hati kita telah begitu terbawa suasana kalimat takbir, tahmid dan tahlil yang menggema di mana-mana. Semua melantunkan kalimat suci ini. Setiap jiwa mengakui Kemahabesaran Allah. Pada saat yang sama rasa penghambaan kepada-Nya semakin terasa. Sehingga ketika kita mengucap Allohu Akbar, Alloh Maha Besar, maka otomatis yang lain menjadi kecil. Ilmu yang kita miliki, harta yang kita punya, jabatan yang kita emban, popularitas yang dibanggakan dan lainnya. Semua kecil di hadapan Allah. Maka semesta bergegas menuju Allah dengan memakmurkan mesjid dan musholla untuk takbiran.

Takbiran juga menegaskan sebagai tanda syukur kita telah melaksanakan kewajiban. Puasa, zakat, tarawih, dan ibadah lainnya telah kita jalani semampu kita bisa. Mungkin masih kurang di sana-sini. Namun semua patut disyukuri. Karena bisa menjalani ibadah juga merupakan nikmat yang sangat besar.

Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan, bulan latihan. Di mana dalam waktu full sebulan kita ditraining oleh Allah dengan berbagai tempaan baik rasa lapar, haus, menahan syahwat dan sebagainya agar kita menjadi insan paripurna yaitu orang yang bertakwa. Tidak salah kalau ada yang memberi umpama ramadhan ini dengan dunia pewayangan sebagai kawah candra dimuka. Gatot kaca digodog dalam kawah tersebut kemudian berhasil keluar menjadi ksatria sakti mandraguna.

Nah, di dalam Ramadhan ini pun orang beriman seolah digodog dengan berbagai ujian agar nanti berhasil keluar menjadi pemenang, menjadi orang yang takwa. Dan ramadhan sendiri bermakna panas yang sangat membara. Atau bisa diartikan juga sebagai pembakaran. Lalu apa yang dibakar? Dan apa hasil pembakarannya?

Logika sederhananya ada dua kemungkinan hasil dari benda yang dibakar:
  1. Benda yang dibakar akan hangus menjadi arang bahkan menjadi debu yang tidak ada gunanya lagi. Contohnya membakar kayu dan dedaunan. Hal ini mengajarkan bahwa dalam berpuasa ini diharapkan kita berhasil membumihanguskan segala sifat tercela yang ada dalam diri kita.
  2. Benda yang dibakar akan semakin banyak kebermanfaatannya. Contonya membakar lempengen besi menjadi cangkul, sabit, pisau dan sebagainya. Ini mengajarkan kepada kita bahwa dengan ibadah puasa sebulan lamanya, diharapkan kita menjadi manusia yang lebih baik. Baik hubungan denga vertikal dengan Allah maupun horizontal dengan sesama (hablumminallaoh wa hablumminannas)
Dengan berakhirnya bulan Ramadhan yang diakhiri dengan "pesta kemenangan" di hari raya Idul Fitri ini kita bisa semakin baik ke depannya. Ramadhan kita jadikan sebagai bekal untuk mengarungi hidup 11 bulan yang akan datang.

Dan kita diharapkan tidak hanya mengenal Allah di bulan ramadhan saja. Karena Allah ada bukan hanya di bulan Ramadhan, di bulan lain pun Allah ada dan mengawasi kita semua. Maka jadilah hamba-hamba yang dekat kepada Allah tidak hanya di bulan ramadhan tapi di bulan-bulan lainnya sebagaimana pepatah, kun robbaniyan walatakun romadhoniyan!

Dengan demikian kita bisa menilai diri kita masing-masing. Apakah hasil ujian ramadhan kita bagus atau hangus? apakah lulus atau pupus? Anda sendiri yang bisa menilainya. Taqobbalallohu minna waminkum shiyamana washiyamakum minal 'aidin walfaizin kullu 'amin wa antum bikhoirin



Previous
Next Post »