Lebaran Kaum Millenials

Lebaran Kaum Millenials
Ada sebuah pesan whatsapp yang mampir ke HP saya melalui sebuah WA Grup. Mungkin saja anda termasuk salah satu anggota grup tersebut. Bunyinya begini:
🏡 Rumah sudah dibersihin, 
Taplak meja juga sudah diganti,
Toples sudah diisi berbagai macam kue🥯🍞🥖, 
Masak juga sudah dibanyakin,

eeeee..
Ternyata lebarannya pada Lewat WA semua🙈🙈....


Tau gitu, kue2 diganti buat beli kuota ajaaaa😥😃🤣
Mendadak saya pun nyerengeh, tersenyum sendiri. Inilah sekelumit dari gejala yang dialami kaum millenials saat ini. 

Kebetulan sore tadi kita "i'tikaf" di jalan raya karena jalanan penuh dengan kendaraan. Perjalanan Kuningan-Majalengka via Cikijing menguji kesabaran. Begitu juga arah sebaliknya. Mungkin karena orang-orang dari kota masih berliburan di pilemburan dalam suasana lebaran. Nah sambil menikmati "i'tikaf" tersebut, iseng-iseng saya isi dengan mengikuti kuliah online di PayTren Academy dengan judul Atur Keuangan Zaman Now dan Future. Sebenarnya ini salah satu faktor strong why kenapa saya betah bertahan di komunitas ini. Kita bukan hanya bicara bisnis, tapi ada wawasan yang luas dalam berbagai bidang. Dan kita bisa mempelajarinya kapanpun dan di manapun. Seperti kuliah jarak jauh, walaupun alumninya tanpa gelar sarjana. Mungkin ke depannya bisa juga dikembangkan ke arah situ. Alhamdulillah, untuk tantangan bulan ini pun saya lulus menjadi Bintang Academia Bulan Juni. Anda bisa cek frame di FB saya. hehehe. Semoga bisa terus belajar dalam kondisi apa pun.

Oh iya hampir lupa..., sebenarnya saya mau sharing tentang kebiasaan kaum millenials ini berdasarkan perkuliaahan yang saya dapati sambil menikmati jalanan yang menguji kesabaran tadi. 

Baiklah kita mulai saja ya? Sebelumnya kita juga perlu mengetahui apa itu kaum millenials? Mereka adalah orang-orang yang dilahirkan antara tahun 1980 sampai 2000. Nah kebayangkan siapa saja kaum millenials itu? Jangan keliru ya, mereka bukan hanya anak sekolahan yang kemana-mana nempel terus dengan gadgetnya. Bahkan Anda sendiri mungkin termasuk kaum millenials. Ngaku saja, saya juga ngaku kok hehehe.

Jadi, kaum millenials yang ada saat ini terbagi 3 macam. Ada yang saat ini masih sekolah, ada yang masih mencari kerja, dan ada yang sudah bekerja. Temukan sendiri kalau Anda ada di posisi yang mana? 

Adapun Ciri-ciri mereka ya begitu, sangat akrab dengan gadget, cenderung konsumtif, dan cepat bosan. Sebahagian dari mereka bahkan sejak balita sudah berkenalan dengan gadget. Sementara yang lainnya baru ta'aruf saat usia kuliah atau saat sudah matang bekerja. Begitulah perjalanan generasi jempol ini mereka selalu update dengan info kekinian, terutama yang berkaitan dengan brand tertentu. Ketika ada trend teknologi terbaru, mereka buang yang lama karena bosan.

Bahayanya, perilaku konsumtif dan cepat bosan juga bukan hanya berkaitan dalam hal barang seperti HP. Namun justru cenderung menular ke ranah lainnya seperti masalah keuangan dan pekerjaan. Bisa jadi juga ke masalah pasangan hidup, hehehe. Ya Alloh semoga kita dikuatkan iman di zaman now yang penuh dengan tantangan ini,  Amin.

Dalam masalah keuangan, kaum millenial lebih sering memenuhi kebutuhan jangka pendek saja daripada kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang. Efeknya, mereka jarang mempunyai tabungan dan investasi untuk masa depan. Termasuk kurang pedulinya terhadap jaminan kesehatan. Walhasil saat uang habis dibelanjakan, sementara keinginan belum terpenuhi semua. Maka hutang menjadi solusinya. Mending kalau penghasilan untuk membayar hutang masih memadai. Tapi kalau tidak cukup, maka yang terjadi menjadi beban. Tidak hanya beban finansial tapi juga beban mental. Ini yang berbahaya. Maka kaum millenials harus belajar membedakan antara need (kebutuhan) dengan want (keinginan). Kebutuhan itu terbatas sedangkan keinginan bisa jadi tak terbatas. Penuhi dulu kebutuhan menyusul kemudian keinginan.

Selain harus mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan, kita juga harus sudah mulai melirik sumber penghasilan lain selain dari gaji rutin. Dalam hal ini penghasilan yang sifatnya jangka menengah dan jangka panjang seperti mulai belajar tentang reksadana, saham dan investasi lainnya. Namun tetap dilandasi kehati-hatian jangan sampai terjebak pada money game dan investasi bodong. 

Dalam masalah pekerjaan pun perilaku cepat bosan kaum millenials cukup membahayakan dirinya. Mereka bisa berpindah-pindah pekerjaan hanya karena bosan, mungkin juga kurang sabar dengan penghasilan yang ada. Dalam sebuah penelitian perilaku mereka antara yang loyal dengan yang terkena virus bosan itu rasionya 1:4 artinya dari 8 orang karyawan hanya ada 2 orang yang loyalitasnya tinggi, sedangkan yang 6 orang lagi dipastikan cenderung bosan dan keluar dari pekerjaannya. Maka yang perlu diperhatikan oleh kaum millenials, adalah bagaimana mereka bisa mengasah skill/kemampuan tertentu, terutama yang mengarah pada kemandirian. Misalnya bisnis online, blogging, youtubing dan lain-lain. Intinya banyak jenis sumber penghasilan di era millenial ini asal ada kemauan belajar dan mau mempraktekkannya.

Demikian kondisi singkat kaum millenials dalam bidang keuangan dan pekerjaan. Lalu bidang yang lainnya bagaimana? Saya pikir tidak jauh beda. Karena mereka lebih akrab dengan dunia maya daripada dunia nyata. Lebih banyak berinteraksi via gadget daripada menyapa secara nyata. Sehingga sangat diperlukan adanya ajang yang bisa memfasilitasi pertemuan, kopdaran, dan silaturahmi kunjung-mengunjungi.

Lebaran ini adalah tradisi yang bisa mencairkan suasana beku kaum millenial di sudut-sudut gadget mereka untuk kembali bercengkrama di dunia nyata. Silaturahmi saling mengunjungi adalah jurus ampuh yang harus terus dilestarikan oleh kita agar dunia ini tetap segar dengan senyuman nyata. Bukan senyuman yang dibuat-buat dengan kamera selfi. Pesan WA kegalauan di atas ini tidak akan terjadi andai semua dari kita menyadari bahwa hadir secara nyata dalam silaturahmi itu lebih berharga daripada sekedar pesan WA. Dan akan lebih bermakna lagi kalau dalam silaturahmi itu menghadirkan hati. Karena silaturahmi yang benar itu bukan sekedar basa basi. Tetapi silaturahmi yang lahir dan hadir dari hati.
Previous
Next Post »