Mengerahkan Kekuatan Fokus Dengan Tulus

Mengerahkan Kekuatan Fokus Dengan Tulus
Mungkin sewaktu Anda sekolah pernah mengenal kaca pembesar yang bernama suryakanta? Waktu itu Anda dan teman-teman pergi ke lapangan mencari tempat yang diterangi matahari tanpa penghalang. Dan tak lupa Anda pun membawa secarik kertas bekas untuk dijadikan bahan percobaan. Dan Anda pun mulai mengarahkan sinar matahari ke atas sehelai kertas tersebut. 1-2 menit terlihat belum terjadi perubahan apa-apa. Namun karena sabar menjalaninya dan yakin akan ada perubahan yang terjadi, maka 30 menit hingga satu jam kemudian yang Anda harapkan itu benar-benar terjadi. Energi panas matahari itu tersedot fokus ke kertas melalui surya kanta mampu menghanguskan sehelai kertas. Allohu Akbar! Anda pun teriak kegirangan.


Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman sederhana di masa kecil tersebut? Jelas, di sana ada pelajaran tentang pentingnya kekuatan fokus. Dengan memiliki fokus yang kuat, konsentrasi yang tinggi, kekhusyu'an yang kontinyu, maka segala sesuatu yang ingin kita raih akan mudah terlaksana dengan waktu yang lebih cepat. Namun jika tanpa fokus ini mungkin saja bisa terccpai, hanya saja akan banyak terseok-seok.



Fokus itu sesuatu yang dilakukan secara kontinyu atau terus menerus. Bahasa Sundanya leukeun, ngeureuyeuh. Dalam sebuah pepatah Sunda  kepada para pembelajar (siswa, santri, mahasiswa dan siapapun yang memiliki semangat belajar) dikatakan cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok, mun sakola syuhud estu kapinteran moal kagok.



Anda bisa membayangkan sebuah gua batu, yang memiliki stalagmit atau stalaglit. Dari atas turun butiran air setetes demi setetes. Namun tetesan air tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Maka Anda akan memahami apa yang terjadi dengan batu yang terkena air tersebut. Ya, lama-lama air batu tersebut cekung (legok). Ini gambaran bahwa fokus itu memiliki kekuatan yang besar. Baik fokus dalam artian, konsentrasi maupun fokus dalam artian sabar dan tekun menjalaninya.



Rasulullah Saw bersabda, "amalan yang dicintai Allah itu adalah amalan yang kontinyu walaupun sedikit" (HR. Muslim). Sementara dalam keterangan lainnya disebutkan bahwa seorang sahabat pernah bertanya kepada ummul mu'mini, Siti Aisyah, "Wahai Ummul Mu'minin bagaimana Rasulullah Saw dalam beramal, apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal? Siti Aisyah menjawab, "Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang rutin dilakukan. Siapa saja diantara kalian, pasti mampu melakukan yang rutin beliau Saw lakukan" (HR. Muslim).



Jadi amalan yang terbaik itu adalah yang dilakukan secara kontinyu, tekun. Dan orang-orang sukses itu rata-rata memiliki sifat tekun. Mereka berani bercita, berani, memulai, beani berproses (sabar, tekun), berani berkorban, dan berani mengevaluasi diri. (Komarudin Chalil dalam 5 keberanian yang dimiliki orang-orang sukses). 


Saya simpulkan bahwa orang yang pandai saja akan kalah oleh orang yang biasa-biasa saja tapi memiliki ketekunan yang tinggi. Pengalaman banyak orang yang membuktikannya. Karena itu kekuatan fokus itu sangatlah penting.

Chandra Putra Negara mengutip isi buku Outliers karya Malcolm Gladwell bahwa ketekunan akan berbuah menjadi kepakaran jika dilakukan selama 10.000 jam. Butuh 10 ribu jam fokus dalam bidang tertentu untuk menjadi seorang yang expert. Tokoh-tokoh seperti  Thomas Alfa Edison, Michael Jordan, Ebiet G. Ade dan lain-lain adalah contoh nyata dari keberhasilan mereka dalam mengerahkan kekuatan fokus dengan tulis sesuai bidang yang digelutinya masing-masing.

Bicara fokus saya jadi teringat sebuah ayat tentang kehusyu'an. Allah Swt berfirman:

45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
46. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (QS Albaqarah 45-46)

Jadi tuntunan agama Islam untuk menjadi pribadi yang bisa fokus itu sangatlah jelas dan kuat. Baik di dalam Al-Qur'an maupun di dalam Al-Hadits. Meskipun dalam hal fikih shalat itu tidak menjadi syarat sahnya shalat, namun hakikatnya kekhusyu'an itu menjadi "nyawa" dalam shalat. Semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang khusyu' yang mampu mengerahkan kekuatan fokus dengan tulus agar kita bisa meraih sukses dunia dan akhirat, Amin
Previous
Next Post »