Temukan Energi Dari Perbedaan Kita

Temukan Energi Dari Perbedaan Kita
Bersyukur kita ditakdirkan berbeda. Karena dibalik perbedaan ini tersimpan berbagai potensi yang bisa kita gali bersama, sehingga satu sama lain bisa saling memperkaya. Bukankah kita terlahir juga merupakan hasil dari harmonisnya kerjasama antara unsur-unsur yang berbeda. Faktanya ayah kita berbeda dengan ibu dalam berbagai aspeknya. Dan betapa jeniusnya para founding father kita dalam mengadopsi kearifan lokal yang ada dalam semboyan negara kita yang tertata secara kata dan nilai rasa. Itulah Bhineka tunggal ika. Berbeda-beda namun tetap satu jua.

Dalam setiap perbedaan itu masing-masing memiliki keistimewaan. Dan alangkah bijaknya jika kita mampu menegasikan keegoan masing-masing. Karena dengan begitu keharmonisan akan tercipta.

Berbicara masalah ini saat jadi teringat cerita sambel yang lezat. Seperti sebagian besar teman-teman, saya termasuk orang yang kesepian jika makan tanpa dibersamai sambel, meskipun hanya sambe beledag, hehehe. 

Dikisahkan suatu hari terjadi "perdebatan imajinar" di atas sebuah cowet antara unsur-unsur pembentuk sambel lezat. Mereka saling mengklaim dengan penuh keegoan bahwa saya lah yang berjasa membuat sambel ini lezat. Cabe, tomat, gula, garam, bawang bahkan terasi, semua mengatakan, "sayalah yang paling berjasa". 

Ditengah perdebatan sengit datanglah ibu menggenggam sesuatu di tangannya. Sambil berteriak ala guru bahasa Arab yang sedang mentashrif, MAATA-YAMUUTU-MAUTAN-MUTUU. Dengan alat yang bernama Mutu ini digeruslah (baca;dimatikan) lah semua keegoan masing-masing. Dan walhasil sambel yang lezat tersaji nikmat untuk anda

Seperti halnya kita yang hadir bersama dalam sebuah akademi guru profefsional kekinian, yang disebut dengan istilah PPG. Sebagaimana dikatakan oleh salah satu pemateri pada sesi orientasi beberapa hari lalu, bahwa PPG ini bukanlah Program Penyiksaan Guru, melainkan Pendidikan Profesi Guru. Tujuan dari pendidikan ini tidak lain untuk mencerdaskan guru agar menjadi guru profesional. Karena guru yang secara legal berlabel "profesional" lah yang berhak mengajar. Adapun yang belum terprofesionalkan, maka secara bertahap akan mengalaminya. 

Kami termasuk para akademia tahap awal dalam program PPG yang fenomenal ini. Di kampus PPG UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saja ternyata kami yang pertama kali menduduki kursi baru di gedung baru. Sebagaimana segalanya serba baru maka semangat belajar yang kami miliki senantiasa diperbaruai. Kami tidak tabu dengan hal baru, namun kami juga akan memegang teguh ruh kearifan masa lalu yang relevan dengan perkembangan jaman. Bukankah para ulama kita telah mengajarkan prinsip almuhafazhah ‘ala islafisshalih wa alakhdzu bil jadidil ashlah. Artinya, hendaknya kita “memelihara tradisi lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”.

Tak terasa, kebersamaan kita di dunia nyata sudah menginjak hari keenam. Namun keakraban lebih baik dari tiga bulan di dunia maya. Sekarang jadi tahu wajah-wajah asli teman diskusi di sudut-sudut forum daring yang melelahkan itu. Perbedaan itu juga mesti ada, dan itu menginspirasi untuk go sukses bersama. Lulus bersama. Amin.


Previous
Next Post »