Dari Mana Harus Memulai

Beberapa hari  ini teman-teman sering melayangkan pertanyaan yang senada, "Kang Bani kok gak nulis lagi?". Mungkin mereka "kangen" dengan tulisan-tulisan renyahku yang sering berseliweran di WA grup atau Telegram. Sorry bro, izinkan aku geer padamu, hehehe.

Dari Mana Harus Memulai
Sebenarnya ada segudang alasan kenapa aku "tak menulis", (walaupun sebenarnya rutin menulis namun tak terpublish). Baiklah jika kamu keukeuh mau tahu kenapa aku tak menulis, Inilah 5 alasannya:

  • Dalam proses kreatif menulis, biasanya ada saat untuk mengedit sebelum publish. Nah, diriku merasa terpenjara waktu untuk mengedit.
  • Seperti yang kau tau, fokusku teralihkan dengan sebuah program pendidikan profesional yang sedang kujalani, mungkin juga dirimu. Jadi, aku bisa menulis namun tak sempat mempublish
  • Mungkin "akidah" kepenulisanku agak rapuh, jadi belum seberapa kuat. Padahal kalau yang sudah benar-benar tsiqoh menjalani kepenulisan. Kondisi apapun yang dihadapi takkan menghalangi untuk menulis. Penulis sejati akan mampu menulis disaat senang, sebagaimana dia pun bisa menulis di saat sulit. Dia mampu menulis di masa senggang, sebagaimana dia pun dapat menulis di saat sibuk. Apalagi dengan adanya teknologi seperti sekarang zaman smartphone, maka kapanpun di manapun sebenarnya sangat mudah menulis. Jujur aku belum sekuat itu
  • Mungkin dibilang stuck atau mengalami kemandegan. Tapi tidak juga, karena sebenarnya aku menulis setiap hari hanya saja tak sempat kusebarkan. Kadang aku menulis saat menaiki tangga ke lantai sembilan, saat di dalam bis, saat jalan kaki. Aku terus menulis dengan bantuan smartphone. Sayangnya gak sempat kupublish.
  • Apa yang kulihat, kudengar, kurasakan bisa kutangkap sebagai ide tulisan. Namun terlalu banyak ide pun ternyata membuatku kurang fokus dan galau, dari mana harus memulainya.
Sekarang, aku menulis tentang ketikdakmenulisan, sebagai terapi bagiku untuk mengobati segala keluhan. Ingat menulis itu juga terapi bro. Saya pernah baca artikel menulis merupakan terapi berdasarkan penelitian orang Barat. Tidak sedikit orang yang sembuh sakitnya dengan terapi menulis. Maka mari menulis lagi kawan!
Latest
Previous
Next Post »