Tuntutan Guru Profesional Era Millenial

"Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu". (Ali Bin Abi Tholib)

Demikian seorang teman mengirim kata-kata mutiara yang dikutip dari buku Filsafat Pendidikan. Kalimat itu menyiratkan nasihat bagi para guru dan orang tua agar mereka sadar, siapa yang sedang mereka didik saat ini. Sebelumnya para ahli sudah menjelaskan bahwa orang tua/guru yang "manggung" saat ini merupakan generasi Y yang berada di tengah-tengah antara generasi sebelumnya dan generasi setelahnya yang sangat akrab dengan gadget. Mereka yang lahir sekitar tahun 2000-an inilah yang disebut generasi Z yang merupakan digital nativeMerekalah generasi millenial murni. Mereka sudah akrab dengan smartphone dan segala produk digital lainnya sejak mereka lahir. Bahkan mungkin sebelum lahir. 

Perbedaan kondisi ini seringkali melahirkan ketimpangan antara guru/orang tua dengan siswa/anak. Di mana pada saat ini guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak channel atau jejaring dunia maya yang mereka miliki. Ilmu pengetahuan bisa dengan mudahnya mereka dapatkan dari internet dengan beraneka menu pilihan yang bebas pilih dan mana suka. Terkadang sumber belajar online yang mereka dapatkan lebih menarik selera dibandingkan dengan penjelasan guru di kelas.

Namun demikian, peran guru tidaklah bisa digantikan oleh apapun, hatta kecanggihan teknologi terkini sekalipun. Guru bukan hanya sebagai sumber ilmu, tetapi dia pun menjadi pemandu dalam hal budi pekerti yang dilandasi keteladan. Nilai-nilai moral, sikap dan budaya inilah yang tidak mungkin tergantikan. Dan tentunya guru pun harus melek literasi digital disamping literasi konvensional yang sudah sejak awal ada.

Peran guru bukan terganti, namun bertambah menjadi lebih cenderung ke arah fasilitator bagaimana membelajarkan siswa dengan baik. Di dalam National Educational Technology Standards For Teacher (NETS-T), disebutkan ada lima pedoman dasar (standar) untuk menjadi guru digital, diantaranya:

  1. Memfasilitasi dan menginspirasi pembelajaran dan kreativitas siswa,
  2. Merancang dan mengembangkan pengalaman dan penilaian pembelajaran Digital-Age,
  3. Model kerja dan belajar Digital-Age
  4. Mempromosikan model Digital Citizens dan tanggungjawab,
  5. Terlibat dalam pertumbuhan profesional dan kepemimpinan
Dan jika kita mengingat pesan istimewa dari Sahabat Ali bin Abi Tholib di atas, maka sebagai guru hendaknya sadar situasi bahwa kita tengah menghadapi tantangan besar. Guru menghadapi siswa di era digital, maka sudah sepatutnya mulai melek literasi digital dalam menghidupkan suasana belajar. Lebih-lebih bagi pengampu mata pelajaran yang sering dianggap sulit seperti bahasa Arab.

Dalam menghadapi tantangan ini, kita juga patut bersyukur karena telah banyak komunitas guru yang mulai melek teknologi meski usia tak lagi belia. Hal ini menunjukkan bahwa para guru tersebut tidak menutup mata terhadap perkembangan zaman. 

Dan pada tataran teknis, kita sudah harus mulai belajar menggunakan teknologi untuk membuat media pembelajaran yang menyenangkan. Tanamkan dalam diri bapak ibu guru bahwa setiap kita memiliki misi besar untuk membuat para siswa senang belajar. Dan media pembelajaran yang menarik bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan tujuan mulia pendidikan itu sendiri.

Dan diantara sekian banyak media pembelajran, media audio visual memiliki peranan sangat penting. Membuat video pembelajaran karya sendiri akan lebih menyenangkan daripada sekedar copypaste atau download punya orang lain. Salah satu aplikasi keren untuk membuat video pembelajaran yang menarik adalah Powtoon. Sebagai guru, apakah anda sudah mencoba aplikasi yang satu ini?

Jika anda belum mencoba dan ingin tahu tata cara menggunakannya, silakan klik di sini DOWNLOAD TUTORIAL POWTOON GRATIS semoga kiranya. tulisan sederhana ini bermanfaat. Amin

Latest
Previous
Next Post »