Diam Saja di Rumah Apa Enaknya

Diam Saja di Rumah Apa Enaknya
Apa yang terbayang dalam pikiran anda saat mendengar kata rumah? Mungkin kangen canda tawa anak-anak, ayah-ibu,  nikmatnya masakan ibu. Pokoknya kalau di rumah rasanya nano-nano, ada jengkel ada senang, ada bosan ada betah. macam-macam lah. Namun jauh sebelum kita mengepresikan diri tentang kondisi rumah masing-masing, panutan kita Nabi Muhammad Saw telah mendeklarasikan kondisi rumahnya dengan ucapan yang fenomenal:
Baiti Jannati.

Rumahku adalah syurgaku. Begitulah semestinya. Kita jadikan rumah-rumah kita sebagai syurga yang menyenangkan, apapun kondisinya. Menjadikan rumah sebagai syurga tidak harus menunggu mentereng laksana istana. Bahkan Rasulullah sendiri menyatakan rumahku syurgaku dalam kondisi rumah yang sangat sederhana. 

Mengapa rumah Rasulullah terasa bagaikan syurga? Karena penghuni-penghuninya adalah para ahli syurga. Mereka yang di dalam rumah itu adalah orang-orang yang taat kepada Allah. Senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. 

Sekarang, di zaman wabah Corona, mau tak mau kita harus patuhi anjuran pemerintah. Diam di rumah. Diam untuk mencegah wabah virus tersebut. Maka agar betah di rumah jadikan rumah kita sebagai syurga dengan cara beraktivitas yang positif bersama seluruh anggota keluarga. Memang tidak mudah untuk diam terus di rumah, karena kebutuhan kita bukan hanya diam, tapi perlu makan dan aktivitas lainnya. Semoga Allah memudahkan jalan rezeki kita di tengah badai wabag Covid-19 ini. Amin.

Salah satu aktivitas yang bisa saya lakukan di rumah sebagai bentuk WFH atau bekerja dari rumah adalah menulis. Menulis apa saja. Diantaranya menulis terjemah sederhana dari teks buku pelajaran siswa sebagai pegangan para siswa dalam mengerjakan latihan dalam proses Teaching From Learning (TFH) ini. Berikut tek terjemahan buku bahasa Arab kelas 7 halaman 104-105:

bekerja dari rumah


Rumah Pamanku
Namaku Risyad. Aku punya paman namanya  Om Taufik. Dia merupkan kakak ayahku. Om taufik memiliki rumah yang besar dan bagus. Rumah tersebut berada di jalan Kalimantan Nomor 78 Samarinda. Dan di rumah tersebut ada lantai bawah dan lantai atas. Di depan rumah ada pohon yang besar, yaitu pohon mangga. Dan di belakang rumah ada kebun yang luas.

Di lantai atas ada balkon dan beberapa kamar tidur. Kamar-kamar ini milik Isma’il, Yusuf dan Ibrahim. Dan kamar tidur itu punya Isma’il, anak pamanku yang paling besar. Kamar tersebut bersih dan rapi. Di dalamnya ada lemari, celana panjang , baju, kasur dan bantal. Di lantai bawah juga ada ruangan yang banyak. Diantaranya ruang tamu, ruang kerja, ruang belajar, ruang makan, dapur, musholla dan kamar mandi.

Di ruang tamu ada sebuah meja dan lima buah kursi yang bersih. Dan di atas meja ada vas bunga. Dan di atas vas bunga ada bunga yang indah seperti bunga mawar dan melati. Dan di atas meja ada lampu.

Dan ini ruang belajar. Dia berada di belakang ruang tamu.  Ruang ini punya Yusuf, anak pamanku yang kecil. Di dalamnya ada pensil, buku, wadah pensil, pulpen, meja belajar dan rak. Dan ini ruang makan. Dia di samping dapur. Di dalamnya ada meja makan besar.  Di atas meja makan ada nasi, garpu, piring, teh dan kopi.

Dan ini ruang kerja. Dia punya pamanku. Dia seorang pengusaha sukses yang terkenal di kota ini. Di ruang kerja ada telpon, fax, kalender, gambar, dan jam. Telpon dan fax di atas mejanya. Kalender, gambar dan jam di atas dinding. Di samping dapur ada kamar mandi dan musholla. Di kamar mandi ada kolam (bak), kloset, air, gayung, dan sabun.

Previous
Next Post »