Wabah Corona, Sebenarnya Apa yang Kita Takuti

Wabah Corona, Sebenarnya Apa yang Kita Takuti
Alkisah ada seorang penegak hukum yang sangat pemberani. Di saat semua tim dalam kesatuannya dibuat tak berdaya oleh ulah segerombolan gengster, dia justru menunjukkan keberanian tingkat dewa. Nampak tak ada urat takut saat dirinya beraksi mendatangi kandang musuh. Tak ayal aksi nekadnya sering membuat atasannya ketar-ketir dengan ancaman ketua gengster yang terkenal itu. Hingga menteri pun turun tangan mengultimatum komandan kesatuan tersebut agar segera menyidang sang penegak hukum nekad tersebut agar jangan terlalu berani.

Dan saat penghakiman itu pun tiba. Di sebuah lapangan terbuka, dia didakwa. Berpuluh pasang mata pasukan berbaris rapi nampak tegang menerka hukuman apa yang akan diberikan kepada sang pemberani itu. Ternyata, pimpinan pasukan mengujinya dengan aneka pertanyaan. Pertanyaan yang menonjol diujikan adalah beberapa pengandaian yang seolah mentasbihkan bahwa sang penegak hukum itu benar-benar tak punya rasa takut. 

Namun apa reaksi sang penegak hukum tersebut? Bukannya mengiyakan bahwa dirinya tak takut siapa pun. Justru dia mengatakan bahwa dirinya "amat sangat takut". Dia menegaskan, "Aku sangat takut jika ajalku tiba namun saat itu aku mengkhianati sumpahku sendiri yang sudah kukatakan 10 tahun yang lalu...."

Itu hanya sekelumit kisah rekaan yang disajikan dalam bentuk film aksi. Saya tertarik dengan nilai-nilai prinsipil sang pemberani yang ternyata punya takut juga. Dan di luar dugaan, ternyata ketakutannya bersifat vertikal. Dia menjunjung tinggi sumpah yang sudah diucapkannya saat diangkat menjadi penegak hukum. Lantas bagaimana orang seperti dia dalam memegang prinsip pribadi dengan Tuhannya? Mungkin lebih dahsyat dari sikap setia pada kesatuannya.

Lalu apa hubungan cerita tersebut dengan fenomena kekinian terkait wabah viru corona? Entahlah, saya hanya ingin mengingatkan bahwa seberapa takutpun kita terhadap wabah ini, jangan sampai melebihi ketakutan kita kepada Allah Swt. Virus juga makhluk Allah, sedangkan yang mampu memberikan manfaat/madharat secara hakiki hanyalah Allah yang Maha berkehendak.

Menarik untuk dicermati, seorang teman memposting ringkasan pengajian Maulana Habib Lutfi bin Yahya. Beliau memaknai Corona ini dengan bahasa Jawa menjadi "Co" artinya pergi dan "Rono" artinya ke sana. Jadi pergilah ke sana. Seolah menjawab pertanyaan Allah dalam sebuah ayat "Faaina tadzhabun?" Maka pergi lah ke sana kepada Allah Swt. Datangi, dekati, kenali Allah lebih dekat lagi. Karena di zaman ini banyak orang yang mengakui adanya Allah, namun sedikit yang mau mengenal Allah.

Dengan demikian konsekuensi adanya wabah ini mestinya menyadarkan kita agar lebih dekat dengan Allah. Karena Allah berkuasa mengizinkan wabah Corona ini merajalela. Maka Allah pun sangat berkuasa untuk menghentikan wabahnya, hanya dengan Kunfayakun. Intinya wabah ini ujian yang tidak hanya secara lahir menakutkan. Namun juga secara batini nyaris menggoyahkan keimanan. Bagaimana kadar ketakutan kita terhadap virus Corona dengan rasa takut terhadap Allah Swt pemilik alam semesta dan seluruh isinya.

Akan tetapi kita pun tidak menapikan akal. Bahwa secara logika kita harus hidup sehat, menjauhi bibit penyakit agar tak terjangkit. Maka usaha dengan berbagai cara seperti yang disarankan pemerintah adalah sangat diperlukan. Dan itu mesti dipatuhi. Dengan catatan, jangan terlampau takut yang berlebihan hingga lupa prinsip hidup sebagai orang yang beragama. Mari kita ambil hikmah wabah ini dengan cara lebih memperbaiki hubungan kita kepada-Nya. Merapat, mendekat dan mengenali Allah lagi. Cari kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt. Amin 




Previous
Next Post »