Luruskan Shaf Namun Renggangkan Jarak Dulu!

jaga jarak
Jujur saya akui, bahwa saya termasuk pengamat tulisan-tulisan "genit" di kendaraan. Jika pas berpapasan, membacanya kadang membuat saya "nyerengeh dewek". Tapi sesekali juga membuat dahi berkerut. Mikir. Mungkin Anda juga tak asing dengan literasi jalanan yang fenomenal, seperti:

Pulang malu gak pulang rindu, kutunggu jandamu, jangan tinggalkan yang baik demi yang menarik, ngebut adalah ibadah makin ngebut makin dekat Tuhan, dsb. Kata-kata tersebut biasanya berjejer di mobil mulai dari yang lucu sampai yang terkesan inspiratif. Namun dari semua tulisan sepertinya ada tulisan yang paling banyak muncul di mobil. Coba tebak tulisan apa? Iya, betul. Tulisan yang sering ada, mungkin sifatnya wajib adalah "JAGA JARAK".

Bukan hanya di mobil-mobil, saat ini praktek tulisan "jaga jarak" sedang viral di mana-mana. Dan bukan lagi bermaksud  mengingatkan agar tak terjadi kecelakaan tabrakan, melainkan agar tak tertular wabah yang tengah melanda. Bahkan shalat berjamaah pun sekarang harus mengikuti protokol jaga jarak satu meter. Mungkin inilah yang dimaksud physical distancing dan social distancing. 

Saya kira hari ini pengalaman pertama seumur hidup shalat berjamaah dengan shaf tak biasa. Tapi apa boleh buat, ini aturan dari ulil amri agar kita terhindar dari semburan wabah yang berbahaya ini. Jika kondisi normal, imam biasa berseru, "Luruskan dan rapatkan shafnya". Maka kalau diverbalkan lagi sekarang ini bunyi himbauannya adalah, "Luruskan dan renggangkan shafnya", hadeuh....

Dan kalau guru ngaji kita dulu menasihati, "Jangan ada barisan yang dikosongkan/direnggangkan, karena nanti akan diisi oleh syetan". Maka bayangkan apa jadinya sekarang? Mungkinkah syetan bersorak atas kemenangannya hari ini? Wallahu' alam. Karena kondisi darurat ini juga demi kemaslahatan dan keselamatan bersama. Bisa jadi syetanlah yang menjerit karena mengisi kekosongan tersebut. Dan diakhir cerita syetan jualah yang tertular wabah, jika saat berjamaah itu ada wabah, hehehe.

Walaupun demikian, bukan celoteh itu yang menjadi poin sentralnya. Melainkan sedih. Kok sampai seperti ini, kita beribadah. Apakah akan begini terus hinggu musim panen pahala (baca: bulan Ramadhan) tiba? Saya kira kita semua akan semakin sedih jika suasana ibadah berjamaah seperti ini terus berlanjut hingga bulan suci bahkan hari idul fitri. Belum lagi di daerah lain, jelas-jelas ada yang dilarang berjamaah. Duh gusti!

Ya Allah mudah-mudahan wabah ini segera Engkau angkat dari sekitar kami...
Kami sadar, dan Engkau Maha Tahu segalanya ya Allah, bahwa kami ini malas ibadah shalat, apalagi shalat berjamaah...
Tapi kami pun tak tega saudara-saudara kami yang ahli shalat berjamaah harus terus-menerus dilanda kesediahan...
Kami pun sekarang rindu suasana normal saat beribadah kepada-Mu...
Kami yang jarang berjama'ah takut ya Allah, mungkinkah tak ada kesempatan lagi untuk meraup pahala yang Kau janjikan dari berjamaah...
Semoga kami dapat mengambil i'tibar berharga dari kejadian ini. Agar kami menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur pada-Mu. Amin

Saudaraku, mungkin boleh jadi anda menganggap tulisan ini hanyalah bualan tak bermakna. Namun yakinlah, Allah itu Maha Kuasa segala-galanya. Allah kuasa mengizinkan makhluk terkecil-nya untuk menjadi sebab bahaya. Dan Allah pun sangat berkuasa untuk membalikkannya atau menghilangkannya.

Dengan wabah ini kita dipaksa untuk "menjaga jarak", tanpa kecuali dalam shalat berjamaah. Boleh jadi suatu saat nanti, mau tidak mau, kita akan "dipaksa" untuk selalu berjamaah. Dan pastinya setiap kejadian pastilah diiringi dengan hikmah yang mesti kita petik. Kita jadikan pelajaran untuk perbaikan diri dan kebaikan bersama, insyaa Allah

Salam Jum'at Berkah!

Sagarahiang, 03/04/2020
Previous
Next Post »