Hanya Sekedar Judul

hanya sekedar judul
Benar kata orang tua bahwa kita ini harus bijak dalam memutuskan sesuatu. Lebih-lebih jika permasalahan tersebut berkaitan dengan hubungan sosial masyarakat. Tidak bisa asal-asalan. Tidak boleh hitam-putih. Mesti banyak variabel yang harus kita pikirkan agar semuanya baik. Namun terkadang dilematis juga. Dan dalam kondisi ini dibutuhkan kecerdasan untuk memilih skala prioritas. Mana yang lebih penting dan genting, itu harus didahulukan daripada yang lainnya. Dan pada akhirnya harus ada yang rela dikorbankan demi kemaslahatan.

Bersikap bijak itu perlu dilakukan. Termasuk salah satu prinsip yang saya pegang selama ini. Jujur saja, sejak awal saya bertekad tidak akan memelihara televisi di rumah. Hal ini karena terinspirasi dengan wejangan orang tua bahwa tivi itu tipu. Dan kalau dipikir-pikir, kalimat itu memang nyata adanya. Karena acara televisi yang menjamur saat ini, lebih banyak madharat daripada manfaatnya. Belum lagi kalau kita mendalami informasi tentang siapa pemilik stasiun-stasiun televisi mainstream yang sedang naik daun saat ini. Korporasi pertelevisian tentu memiliki visi misi tertentu, yang secara kasat mata seolah baik. Namun hakikatnya perlu diselidik, dievaluasi oleh kita semua. Adakah acara yang tak mendidik, atau semuanya mendidik?

Akan tetapi karena perubahan situasi kondisi dalam keluarga. Maka dengan bismillah, terpaksa televisi dihadirkan di rumah juga. Salah satu alasan terkuat agar anak-anak tak terlalu fokus pada gadget dan tidak terus-menerus menyusahkan tetangga. Walhasil, mereka sekarang lebih banyak menikmati tontonan televisi daripada bermain HP. Kekhawatiran menyusahkan tetangga pun kini terobati. Dan, sebagai konsekuensi dengan perlahan saya masukan channel TV khusus dakwah dengan cara merapat kepada Albahjah TV.

Alhamdulillah kini channel Albahjah TV, Nabawi TV, dan Qur'an TV menghiasi rumah kami. Meskipun belum sepenuhnya mampu menghapus channel-channel TV mainstream yang unfaedah secara spiritual. Perlahan tapi pasti menghadirkan TV dakwah di rumah menjadi solusi. Tak harus dipaksakan kepada mereka. Namun insyaa Allah suatu saat akan berpengaruh positif kepada seluruh anggota keluarga. Dan semoga juga menular kebaikannya kepada tetangga.

Ada yang menarik dari obrolan ringan sambil ngopi dengan abang-abang teknisi Albahjah TV. Intinya kita bekerja sebagai guru, petani, pedagang, pegawai negeri dan sebagainya. Semua profesi itu hanyalah judul. Sedangkan rezeki yang kita cari tidak melulu datang dari berbagai profesi tadi. Allah berkuasa untuk mendatangkan rezeki bagi kita dari arah mana saja. Sehingga ketika kita berbuat baik kepada seseorang, tak dibenarkan kita berharap imbalan dari orang tersebut. Karena hakikatnya yang akan memberi imbalan hanyalah Allah Swt. Dan hal itu akan datang dari arah mana saja yang terkadang tak pernah kita sangka-sangka.

Oleh karena itu, bekerjalah dengan baik sesuai profesi masing-masing. Namun harus diingat jadi apapun kita, semua itu hanyalah judul saja. Sedangkan isi rezeki yang kita harapkan bisa muncul dari mana saja. Walaupun hakikatnya dari Allah. Ingat burung yang terbang dalam kondisi lapar, bisa pulang dalam kondisi kenyang. Apalagi kita manusia yang diberi akal. Jika mau menyempurnakan ikhtiar dengan segenap potensi yang ada, insyaa Allah rezeki mendekat. Karena Allah tak mungkin keliru dalam membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya.Wallahu a'lam. 
Previous
Next Post »