Bobolnya Benteng Kita?


Lupa atau sengaja, kita kerap membandingkan perilaku anak-anak jaman sekarang dengan anak jaman dulu. "Dasar anak jaman sekarang...". Itulah kira kalimat ekspresi jengkel untuk menunjukkan betapa bedanya kondisi generasi saat ini dengan orang tuanya. Membandingkan seperti itu bukanlah hal yang bijak. Karena variabel situasi kondisi sekarang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Bayangkan saja, mungkin diantara anda baru mengenal gadget itu saat kuliah, sedangkan mereka sebelum lahirpun sudah akrab dengan hal yang berbau digital. 

Kondisi seperti itu pun sangat mempengaruhi perilaku anak-anak. Mereka terlalu disibukkan dengan dunia maya. Sementara dunia nyata sekitarnya seperti angin lalu. Tidaklah mengherankan jika nilai-nilai yang dulu diajarkan oleh orang tua kurang begitu direspon positif oleh anak-anak jaman ini. Terlebih jika pendekatan yang dilakukan oleh orang tua pun terkesan kurang bersahabat dengan mereka. Alih-alih mereka mengikuti arahan yang dituju, justru diam-diam mereka menolaknya.

Sebagai generasi yang lahir lebih duluan, mungkin kita harus belajar secara ekstra untuk bisa mengimbangi kebolehan mereka. Oleh karena itu segera hapus alasan gaptek yang sudah karuan menggelayut menjadi pembenaran subjektif dalam benak kita. Bagaimanapun anak-anak yang tetap anak-anak. Mereka mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan tertentu yang dulu kita juga pernah mengalaminya. Bedanya sekarang itu stimulus arus digital lebih kuat daripada lingkungan sekitar.

Bagaimana tidak, ke manapun mereka pergi bermain, di sana hegemoni dunia digital dalam genggaman teman-temannya. Jadi, yang terbaik adalah bukan melarang keras mereka untuk bergadget ria, tapi bagaimana kita bisa hadir membersamai mereka dalam dunianya. Secara terjadwal, ajaklah si buah hati untuk "berjalan-jalan" melihat lingkungan sekitar. Alam yang asri alami akan lebih baik daripada shopping ke supermarket atau tempat hiburan modern lainnya.

Dan tanpa kecuali, keasyikan mereka dalam bermain gadget pun perlu kita jadwalkan sedemian rupa. Mungkin yang biasanya setiap hari mereka bermain game di HP, coba dicari cara agar kegiatan seperti itu lebih jarang dilakukan.

Memang ada yang berkata, itu tidaklah mudah. Faktanya memang demikian. Perlu kerja keras dan berpikir cerdas untuk bisa menyiasatinya. Dan terkadang yang ada adalah senjata makan tuan. Kita berusaha untuk mendisiplinkan anak dalam mengguakan gadget, sementara diri sendiri sebagai orang tua kurang menjadi teladan.

Namun bagaimanapun juga kita harus melakukan ikhtiar nyata demi kebaikan mereka. Masa depan mereka adalah harapan kita. Kebahagian mereka adalah cita-cita kita jua. Dan bagi prinsip muslim kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan harta, ilmu atau popularitas dan lain-lain. Kebahagiaan hakiki adalah mencapai ridho dan rahmat Allah Swt di dunia dan akhirat.

Dan tujuan yang sedemikian itu tidak akan mudah terlaksana jika variabel-variabelnya tidak diwujudkan secara nyata. Dengan memanaj perilaku mereka agar senantiasa normal tak berlebihan, maka insyaa Allah akan terhindar dari bobolnya benteng kita. Benteng itu adalah akhlak mulia. Kita khawatir, cengkraman pengaruh konten teknologi dan teknologi itu sendiri akan meruntuhkan sendi-sendi prinsipil yang kita yakini.

Faktanya, tidak sedikit anak-anak yang disapa tak lagi merespon. Mereka enjoy dengan dunianya tanpa mengindahkan sapaan sayang dari guru dan orang tua. Padahal hanya berupa sapaan ringan, apatah lagi kalau suruhan. Dalam istilah yang viral belakangan disebut gak ada akhlak. Kalau mereka terlantar dalam belantara dunia maya, lantas mungkinkan harapan bahagia itu bisa nyata?

Benteng akhlak merupakan estafet perjuangan yang harus kita pertahankan, apapun tantangan jamannya. Bukankah jauh-jauh hari panutan kita Rasusullah Saw, telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. 

Sekarang saatnya stop menghakimi mereka dengan kalimat miring menyakitkan senada, "Dasar anak jaman sekarang...". Ingat kalau anak jaman now dianggap tidak baik, sebenarnya anak jaman dahulu kala banyak yang jauh lebih tidak baik lagi. Bukankah Fir'aun, Namrud, dan Abu Jahal itu anak jaman old?

Peernya adalah, bagaimana kita bisa terus belajar agar bisa mengawal mereka dengan pendekatan persuasif, humanis dan bersahabat bagi mereka. Sebgai orang tua atau guru kita harus menjadi pembelajar sejati. Ingat juga nasihat Kepala Dirjen Pendidikan Islam saat ini, "Insan yang terpelajar hanyalah pemilik masa lalu, insan yang terus belajar akan menjadi pemilik masa depan".


Previous
Next Post »