Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kemana Aku Pergi Ada Kamu

Dalam buku  Self Coaching Bab 2 Darmawan Aji mengutip sebuah kisah klasik tentang seseorang yang membenci kota asalnya, Samarkand. Diceritakan waktu itu kepindahannya kali ketiga dengan tujuan kota Bukhara. Sedangkan sebelumnya dia menganggap penduduk kota-kota yang pernah didiaminya itu brengsek. Dalam perjalanan dia bertemu seorang kakek. Lalu ia bertanya:

"Kakek, apakah kakek baru saja dari kota Bukhara?"

"Iya, betul"

"Wah, kebetulan, saya sedang dalam perjalanan untuk pindah ke sana. Boleh saya tahu kek, orang-orang di sana itu seperti apa ya? Ramah atau brengsek?"

"Hmm... kamu dari kota mana?"
"Saya dari Samarkand"
"Seperti apa orang-orang di Samarkand?"

"Orang-orang di sana brengsek semua kakek, itu sebabnya saya memutuskan pindah ke kota lain. Bukhara adalah pilihan saya."

"Jangan khawatir anakku, kemana pun kamu pindah, orang-orangnya akan sama".

Begitulah cuplikan kisah klasik yang saya ambil dari buku terbaru Coach Darmawan Aji sebagai prolog tulisan ini. Silakan sobat simpulkan sendiri pelajaran berharga apa dari kisah tersebut. Sederhana saja kesimpulan saya mah, bahwa di manapun kita berada akan ditemukan jua orang dengan karakter yang sama atau hampir sama. Karakter yang mungkin sobat tidak menyukainya. Hanya saja mungkin ada perbedaan dari taraf ekonomi, tingkat pendidikan, suku bangsa dan lainnya. Menurut saya hal tersebut wajar-wajar saja. PR nya adalah bagaimana cara kita menghadapinya.

Saya kira sobat juga akan sepakat bahwa kita perlu banyak belajar agar pintar. Pintar apa? Ya, pintar menghadapi situasi kondisi seperti karakter manusia yang tidak disukai tadi. Salah satu hal yang perlu kit siapkan adalah menguasai keterampilan management of change atau manajemen perubahan. Di mana sobat hidup, maka di situ kita bersosialisasi. Ketika bersosialisasi maka harus siap dengan perubahan yang terjadi.

Dan kesiapan sejati itu tentu harus lahir dari hati. Dari dalam diri sobat sendiri. Meskipun mungkin juga ada teori bahwa dengan berpura-pura siap pun lama-lama jadi siap beneran. Namun kesiapan yang berasal dari diri sendiri jauh lebih mumpuni.

Sebagaimana kita telah pelajari di bangku sekolah dulu bahwa salah satu keterampilan hidup yang cukup penting adalah kemampuan beradaptasi. Nah, untuk menjadi the winner itu pun diperlukan skill seperti ini. Tetapi perlu digarisbawahi ya sobat, bukan berarti kita harus menjadi bunglon, hehehe. Dengan pandai beradaptasi seseorang akan sadar diri, sadar posisi, dan sadar situasi. Bahasa wong enomnya, Siapa lho, di mana lho sekarang.

Dari sini diharapkan kita bisa menimbang-nimbang diri, ya sobat. Maksudnya muhasabah atau introspeksi diri. Dan proses menghisab diri ini sangat urgen kita lakukan setiap saat. Sehingga kita tidak menyesal dikemudian hari. Dengan evaluasi diri setiap hari, maka akan menghasilkan jiwa yang powerfull. Kita tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Sekaligus tidak terbawa arus penyesalan mendalam karena berlebihan menyalahkan diri sendiri.

Dalam menghadapi kondisi yang dislike ini, sebenarnya kita sudah punya senjatanya yaitu hati. Tinggal siapkan pelurunya berupa wawasan yang luas, belajar tiada henti, dan berlatih. Didukung dengan optimasi semua pancaindera untuk mengedepankan berpikir positif.

Dan karena output yang diharapkan dari proses belajar itu adalah perubahan perilaku. Berubah dari tidak baik menjadi baik, dari tidak soleh menjadi soleh, dari tidak cerdas menjadi cerdas. Maka, pendidikan itu sangat urgent untuk menghasilkan SDM-SDM yang bijak. Manusia yang bijak akan selalu mencoba mencari celah kebaikan dari setiap kejadian yang dialaminya.

Jadi, kalau kita renungkan, diciptakan orang-orang di sekitar kita dengan berbagai karakter. Hatta karakter "brengsek" yang menjengkelkan sekalipun sebenarnya itu kiriman Allah untuk menguji kadar keimanan kita semua, sobat. Bisakah kita menjadi hamba-Nya yang terbaik amalnya di sisi-Nya?

Dan yang paling penting dari semua itu adalah kita perlu mendoakannya agar si dia berubah lebih baik. Meskipun kita sadar dengan kelemahan diri. Si dia atau mereka di luar kendali kita. Namun, bukankah Allah sangat berkuasa membolak-balik hati hamba-Nya? Pertanyaannya, sudahkah sobat bercucuran beningnya air mata dalam heningnya malam untuk bermunajat kepada Allah demi mendoakannya? 

Yuk, Ucapkan selamat jalan kepada diri sobat masing-masing selamat jalan untuk meraih kesuksesan menjadi hamba Allah paripurna yang menjaga hubungan baik dengan-Nya juga dengan mereka, karakter yang selalu ada di manapun kita berada.




Posting Komentar untuk "Kemana Aku Pergi Ada Kamu"