Kita Di Persimpangan Jalan?

Kita Di Persimpangan Jalan
Apa yang terbayang oleh Anda dari sosok Presiden Indonesia ke-4 yakni Gusdur? Pastinya bermacam-macam kesan ya, tergantung sudut pandang yang anda ambil. Ada yang berpikir tentang pluralisme, pemikiran liberal, ada yang meyakini sebagai "wali", nyeleneh, humoris dan sebagainya. Beliaulah sosok unik kharismatik yang pernah di miliki Indonesia. Sosok pemimpin negara yang berasal dari pesantren yang jika dhitung-hitung antara yang memuji dengan yang mencaci, yang membenci dengan yang mengagumi nilainya 50:50, katanya. 

Mungkin Anda juga masih ingat ketika Gusdur menggambarkan Indonesia sebagai "Negara yang Bukan-Bukan". Negara Islam bukan, negara sekuler bukan. Negara kita memang punya falsafah tersendiri. Terbukti saat zaman perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, Indonesia malah berdiri sendiri dengan menjadi penggagas Negara Non Blok. Inilah negeri kita, dengan segenap kebhinekaan sebagai kekayaan bangsa. Saya bangga jadi bangsa Indonesia, dan saya bangga menjadi seorang muslim.


Teringat dengan gambaran "bukan-bukan" dari Gusdur tersebut. Menjadi renungan tersendiri bagi kita terutama saat kita memasuki era baru yaitu Era Industri generasi ke-empat yang sering disebut sebagai Industri 4.0. Sadar atau tidak saat ini kita telah memasuki gerbong ini. Dan mungkin kita ini tengah menjadi pemain karena kita generasi millenial.



Sebagaiman yang pernah saya tulis di blog ini bahwa  kaum millenial itu adalah mereka yang lahir kisaran tahun 1980- 2000. Dan ternyata ada juga yang membagi pemain era digital ini ke dalam dua kategori yaitu  digital immigrant dan digital native. Pada umumnya digital immigrant adalah kaum millenial senior secara usia. Sedangkan digital native adalah kaum millenial yang masih muda. 


Nah, dalam mengarungi era baru ini kondisi kita berada di persimpangan zaman. Satu sisi pemerintah ingin mengajak sprint bermigrasi ke ruang era digital. Namun sisi lainnya, masih banyak masyarakat yang belum siap beradaptasi dengan situasi kondisi yang baru. Maka alih-alih menjadi pemain digital dengan tingkat produktivitas tinggi, justru hanya menjadi bulan-bulanan mereka yang sudah jauh menjadi pemain di arena ini. 

Untuk level negara, maka China saat ini menjadi salah satu kiblat utama dalam teknologi yang berbalut digitalisasi. Bahkan Amerika dan Eropa pun kalau mau jujur mereka kalah selangkah dari raksasa Asia ini. Seorang kolumnis Republika pun pernah menggambarkan bahwa saat ini sedang terjadi Perang Besar dunia ke-3. Namun bukan perang senjata melainkan perang teknologi. Maka tidak mengherankan belakangan sering diberitakan ketegangan antara China dan Amerika.

Bagaimana dengan kondisi kita? Langkah Indonesia tergantung siapa yang akan memimpinnya 10 tahun ke depan. Apakah kita bisa mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) atau mengekor ke negara lain yang katanya sudah disebut negara maju. Kondisi kita di persimpangan jalan. Semoga kebaikan menyertai kia semua, kapanpun dan di manapun.

Begitu pun dalam dunia pendidikan. Implikasi dari era digital ini mau tidak mau harus diikuti dengan baik tanpa meninggalkan marwah (kemuliaan) nilai-nilai warisan budaya bangsa kita. Maka pendidikan bisa berfungsi untuk mengawal generasi millenial ini agar bisa menjadi insan paripurna. Mereka diharapkan menjadi generasi yang melek teknologi dan mengakar dalam ketakwaan. Karena itu konsep filosofi penguasaan imtak dan iptek dari guru bangsa kita, sampai saai ini masih tetap relevan.

Menjadi insan pendidikan baik sebagai guru, dosen, kiyai dan sebagainya pada saat ini hendaknya memiliki kecakapan digital juga. Kenapa? Karena sasaran dakwah zaman now tersebar di sudut-sudut digital. Terkadang mereka sudah siap dengan pengetahuan. Bahkan bisa jadi lebih banyak pengetahuannya dari para pendidik. Begitulah kondisi masyarakat informasional saat ini. 

Kita hendaknya tidak melupakan sejarah. Sebagaimana kata Bung Karno, Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena dari sejarah kita dapat belajar banyak hal. Tetap sukses dan gagal, jaya atau binasa, bahagia dan menderita. Termasuk kita bisa mengambil ibroh dari perjalanan dakwah wali songo. Dengan memanfaatkan media yang berkembang saat itu, maka mereka berhasil mengislamkan nusantara tanpa banyak perlawanan yang sengit.

Apa rahasia mereka? Mungkin karena mereka memilik prinsip "mengikuti arus tetapi tidak hanyut". Dan prinsip seperti itu pun sangan cocok jika kita amalkan di zaman ini meski tantangannya berbeda. Dengan demikian, maka arah di persimpangan jalan ini semakin lama semakin jelas dan fokus. Bahwa nilai-nilai mulia dari agama dan budaya bangsa ini harus tetap mengawal perjalanan generasi millenial. Dan yang pertama dan utama sebagai muslim hendaknya anak-anak kita dibekali dengan pendidikan Al-Qur'an sejak awal. Ini berfungsi sebagai i'dad (persiapan) sebelum mereka terjun ke bidang umum termasuk pengermbaraan mereka di era digital. 





Previous
Next Post »